Wafatnya Banyak 'Ulama

 Gambar: Ribuan pentakziyah mengiringi pemakaman seorang 'ulama kharismatik, Habib Hasan Assegaf Pasuruan (64 tahun), yang wafat pada Minggu, 27/12/2020.


MENYIKAPI BANYAKNYA 

'ULAMA YANG WAFAT

Juli 2021

Oleh :

Dra. Nihayatul Laili Yuhana, M.Pd.I

PENYULUH AGAMA ISLAM FUNGSIONAL 

KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KABUPATEN NGANJUK


Silih-berganti, di era pandemi covid-19 yang semoga lekas berakhir ini, berdatangan kabar duka atas meninggal atau wafatnya banyak orang, termasuk dari kalangan ulama: kiyai-kiyai, ibu nyai-ibu nyai, gus-gus, ning-ning, juga tokoh-tokoh publik figur keberagamaan Islam.

Dalam rangka merasakan situasi prihatin dengan kondisi itu, KH. Ma'ruf Amin, wakil presiden yang juga seorang 'ulama, dalam pertemuan virtual para ulama dan tokoh agama Islam pada tanggal 12-07-2021, menyebutkan bahwa jumlah ulama yang wafat dalam suasana Covid ini lebih dari 541 'ulama. "Terdiri dari 451 laki-laki dan 90 perempuan. Ini kehilangan besar. Mencetak 'ulama itu tidak gampang," ungkap KH. Ma'ruf. 
 
Tangis pilu kepedihan kalbu
mengiringi kepergian mereka..

Seperti inilah hati ini,
setiap kali mendengar 
'ulama meninggal,
selalu dan selalu menangis

Ada sebuah rasa berat 
dan pikiran panjang..... 
teringat garapan dakwah 
yang ditinggalkannya...

Meski selalu hati ini kembali 
kepada ketundukan pada takdir,
namun kesedihan 
yang sangat dalam 
tetap menyayat hati....

Gusti...
Sisakan untuk kami
Jangan dipanggil semua, Gusti...

Ini bukan soal yang pergi,
tapi kami yang ditinggal pergi...

Satu per satu cahaya itu 
Engkau padamkan,
Bagaimana kami membongkar gelap,
Sederetan ilmu telah diangkat.....

Sisakan, Gusti...
Jangan Engkau panggil semua

Lalu pada siapa 
kami menitipkan do’a...
jika para kekasih-Mu 
Engkau panggil semua.....

Gusti..
Lindungilah para Guru kami 
dan 'Ulama bangsa ini...
Untuk kami dan anak cucu nanti..
Aaamiiin.. 😭🤲🤲

Sebagai muslim, tentu kita merasa kehilangan dan bersedih atas wafatnya ulama pewaris Nabi. 

Hanya orang munafik saja yang tidak bersedih atas wafatnya para 'ulama, para pewaris Nabi.

Rasulullah Shallallahu 'Aaihi Wasallam menyatakan bahwa tidak bersedih dengan wafatnya 'ulama pertanda kemunafikan. 

Imam al-Hafizh Jalaluddin bin Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi (w. 911 H.) dalam Kitab Tanqih al-Qaul mengutip sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam:

مَنْ لَمْ يَحْزَنْ لِمَوْتِ العَالِمِ 
فَهُوَ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ مُنَافِقٌ

“Barangsiapa yang tidak sedih dengan kematian 'ulama maka dia adalah munafik, munafik, munafik”.

Wafatnya 'ulama tentu juga merupakan proses berkurangnya martabat dan wibawa daerah yang ditinggalkannya. 

Sebagaimana firman Allah ‘Azza Wa Jalla:

اَوَلَمْ يَرَوْا اَنَّا نَأْتِى الْاَرْضَ نَنْقُصُهَا مِنْ اَطْرَافِهَاۗ وَاللّٰهُ يَحْكُمُ لَا مُعَقِّبَ لِحُكْمِهٖۗ وَهُوَ سَرِيْعُ الْحِسَابِ

Artinya: "Dan apakah mereka tidak melihat bahwa sesungguhnya Kami mendatangi daerah-daerah, lalu Kami kurangi daerah-daerah itu (sedikit demi sedikit) dari tepi-tepinya? Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dialah Yang Maha Cepat Hisab-Nya". (Q.S. al Ra'du: 41).

Sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Katsir (w. 774 H.), bahwa Sahabat Ibnu 'Abbas Radhiyallahu 'Anhu mengatakan bahwa makna yang dimaksud dari ayat di atas ialah rusaknya daerah-daerah itu dengan kematian 'ulama, ahli fiqih, dan orang-orang sholih dari penduduknya.

Hal yang sama telah dikatakan oleh Imam Mujahid (w. 104 H.), bahwa makna yang dimaksud ialah meninggalnya 'ulama daerah tersebut.

Kita semua mengakui bahwa wafatnya 'ulama adalah sebuah musibah bagi umat Islam. 

Hal demikian ditegaskan oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam:

مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ

“Meninggalnya 'ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya 'ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih mudah bagi saya daripada meninggalnya satu orang 'ulama." (HR al-Thabrani dalam Mu'jam al-Kabir dan al-Baihaqi dalam Syu'ab al-Iman dari Abu Darda').

'Ulama adalah pewaris Nabi. Wafatnya satu orang 'ulama berarti hilangnya satu orang pewaris Nabi. Maka sungguh sedih yang tak terperi manakala yang wafat adalah ratusan ulama sebagaimana fakta duka cita pandemi corona terakhir ini.

Sebagai musibah dalam agama yang diibaratkan oleh Nabi laksana bintang yang padam, wajar bila kita bersedih ditinggal wafat seorang 'ulama.

Musibah ini akan dirasakan terutama oleh para pecinta ilmu, orang-orang yang peduli dengan warisan kenabian oleh sebab wafatnya 'ulama juga bermakna diangkatnya ilmu.

Kesedihan yang benar sebab ditinggal wafat seorang 'ulama bukanlah kesedihan berdasar nafsu karena kehilangan fisiknya. Kesedihan ini sejatinya adalah karena kehilangan orang yang mentransfer warisan kenabian berupa ilmu agama kepada umat.

Kehilangan orang yang membimbing kita kepada jalan kebenaran sesuai dengan cahaya ilmu pengetahuan. Kehilangan orang yang dalam dadanya tersimpan bermacam ilmu yang diperlukan dalam menjalani kehidupan. Sehingga wafatnya 'ulama bermakna kehilangan pembawa ilmu pengetahuan.

Mengenai hal ini, Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam, sebagaimana diriwayatkan al-Imam al-Bukhari (w. 256 H.) dan al- Imam Muslim (261 H.), bersabda:

ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ ﺣﺘَّﻰ ﺇﺫﺍ ﻟَﻢْ ﻳَﺒْﻖَ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳآءَ ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ

“Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak menggangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah menanggkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. 

Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan."

Al-Imam An-Nawawi Rahimahullah (w. 631 H.) dalam Syarh Shahih Muslim menjelaskan makna hadits di atas sebagai berikut:

‏ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﺤﻮﻩ ﻣﻦ ﺻﺪﻭﺭ ﺣﻔﺎﻇﻪ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﺣﻤﻠﺘﻪ ، ﻭﻳﺘﺨﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺟﻬﺎﻻ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﺑﺠﻬﺎﻻﺗﻬﻢ ﻓﻴﻀﻠﻮﻥ ﻭﻳﻀﻠﻮﻥ .

“Hadits ini dan hadits-hadits sebelumnya secara mutlak menjelaskan bahwa yang dimaksud mengambil ilmu bukanlah menghapuskan ilmu dari dada para penghapalnya.

Akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut.

Akhirnya manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka, padahal mereka itu sesat dan menyesatkan orang lain."

Wafatnya banyak 'ulama pertanda kiamat sudah semakin dekat. Ketika ilmu pengetahuan tentang ajaran agama diangkat Allah dari muka bumi, maka ini pertanda usia bumi tidak lama lagi. 

Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, diriwayatkan al-Imam al-Bukhari, bersabda:

ﻣﻦ ﺃﺷﺮﺍﻁ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻳَﺜْﺒُﺖَ ﺍﻟﺠﻬﻞُ

“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan teguhnya kebodohan“.

Ketika ilmu diangkat, kebodohan merajalela, maka dari situlah kehancuran bermula. Karena manusia tidak lagi menjalani kehidupan berdasarkan ilmu atau ajaran agamanya. 

Bagaimana Sikap Kita Seharusnya memaknai wafatnya ulama?

Benar, bahwa wafatnya ulama adalah bermakna lubang atau kebocoran dalam agama sebagaimana disebutkan di dalam hadits. Bahkan kebocoran ini tidak bisa ditambal sepanjang masa. 

Namun, apakah dengan melampiaskan duka cita tanpa memikirkan solusinya adalah bukti kita bersedih atas wafatnya ulama dengan kesedihan yang sesuai dengan aturan agama?

Seorang sahabat Nabi Sayyidina Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘Anh dalam konteks ini memberikan solusinya:

ﻋﻠﻴﻜﻢ ﺑﺎﻟﻌﻠﻢ ﻗﺒﻞ ﺃﻥ ﻳﺮﻓﻊ ﻭﺭﻓﻌﻪ ﻣﻮﺕ ﺭﻭﺍﺗﻪ، ﻓﻮﺍﻟﺬﻱ ﻧﻔﺴﻲ ﺑﻴﺪﻩ ﻟﻴﻮﺩّﻥّ ﺭﺟﺎﻝ ﻗﺘﻠﻮﺍ ﻓﻲ ﺳﺒﻴﻞ ﺍﻟﻠﻪ ﺷﻬﺪﺍﺀ ﺃﻥ ﻳﺒﻌﺜﻬﻢ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻤﺎﺀ ﻟﻤﺎ ﻳﺮﻭﻥ ﻣﻦ ﻛﺮﺍﻣﺘﻬﻢ، ﻓﺈﻥ ﺃﺣﺪﺍ ﻟﻢ ﻳﻮﻟﺪ ﻋﺎﻟﻤﺎ ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﺑﺎﻟﺘﻌﻠﻢ

“Wajib atas kalian untuk menuntut ilmu, sebelum ilmu tersebut diangkat atau dihilangkan. Hilangnya ilmu adalah dengan wafatnya para periwayatnya, yakni ‘ulama. 

Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh orang-orang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syuhada, mereka sangat menginginkan agar Allah membangkitkan mereka de ngan kedudukan seperti kedudukannya para ulama, karena mereka melihat begitu besarnya kemuliaan para ulama. 

Sungguh tidak ada seorang pun yang dilahirkan dalam keadaan sudah berilmu. Ilmu itu tidak lain didapat dengan cara belajar."

Kesedihan kita yang benar itu adalah dengan cara kita lebih rajin thalabul 'ilmi dan terus aktif berinteraksi positif dengan para 'ulama yang masih ada, mumpung mereka belum dipanggil oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. 

Kita harus mengambil ilmu sebelum para 'ulama pembawa ilmu pergi seluruhnya. 

Selagi masih ada ulama yang tersisa, kita harus manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk belajar kepada mereka. 

Sebagian dari kita justeru harus ada yang benar-benar intensif belajar dan menekuni ilmu agama, lalu bersiap memikul tanggung jawab untuk menjadi penerus para ‘ulama, pelanjut estafet keberlangsungan transfer ilmu agama Islam, sebagai pewaris para Nabi.

Wallahu A'lam.

Sumber:
https://nasional.sindonews.com/read/480802/15/ungkap-541-ulama-wafat-di-tengah-pandemi-covid-19-maruf-amin-ini-kehilangan-besar-1626080846
dan berbagai sumber lainnya.








Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apresiasi Untuk Aparat Kepolisian

MEMAHAMI TALAQQI DALAM TINJAUAN AL-QUR’AN (Kajian Tafsir Tematik)

Bimbingan Perkawinan di KUA Berbek